Simpul terbesar (Uqdatul
Kubro), permasalahan mendasar manusia
Ketika menginjak dewasa, setiap
manusia akan berpikir tentang dirinya dan kehidupan dunia ini dalam bentuk
beberapa pertanyaan berikut:
- Siapakah saya dan darimana saya berasal ?
- Apa yang sedang saya lakukan di kehidupan ini ?
- Akan kemanakah saya setelah kehidupan ini ?
- Apa hubungan antara asal saya dengan kehidupan ini dan tujuan saya dengan kehidupan ini ?
Manusia
akan menjalani kehidupan ini berdasarkan jawabannya atas pertanyaan tersebut. Itulah permasalahan
mendasar yang harus dipecahkan oleh setiap manusia, sebuah simpul besar (uqdatul
kubro) yang harus diuraikan.
Berbagai jawaban atas Uqdatul
Kubro
Banyak jawaban atas permasalahan mendasar tersebut, namun hanya
ada satu jalan untuk menemukan jawaban-jawaban tersebut, yaitu dengan
berpikir tentang lingkungan sekitar kita (melakukan pengamatan terhadap alam
sekitar, merenungkannya dan mengambilkan kesimpulan). Jawaban-jawaban yang ada
saat ini di dunia ada 3 (tiga), yaitu:
1.
Sosialisme: Dirinya berasal dari materi, hidup mengikuti
perkembangan alam semesta dan akan mati sebagai materi. Kesemuanya adalah
materi dan karena itulah materi bersifat wajibul wujud dan azali.
2.
Kapitalisme: Dirinya diciptakan oleh Sang Pencipta, tetapi di
kehidupan dunia Sang Pencipta tidak berhak mengatur dirinya dan dia akan
kembali kepada Sang Pencipta. Aturan di kehidupan dunia berlandaskan ‘manfaat’
atas sesuatu saja.
3.
Islam: Dirinya diciptakan oleh Sang Pencipta yang
memberikan aturan atas kehidupan dunia dan dia akan kembali kepada Sang
Pencipta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Inilah jawaban yang shohih.
Namun, ketiga jawaban
tersebut masih bersifat umum, dalam arti setiap jawaban bisa memiliki
cabang-cabang yang berbeda. Sebagai contoh, dalam Islam ada Ahlu Sunnah,
Mu’tazilah, Jabariyah dan masih banyak lagi.
Berpikir sebagai
satu-satunya jalan (Penjelasan Islam)
Sesedikit apapun seseorang
berpikir akan lingkungannya, maka dia tetap melakukan aktifitas berpikir. Yang
dimaksud dengan aktifitas berpikir adalah melakukan pengamatan tentang alam
sekitarnya, merenungkannya dan mengambil kesimpulan. Alam sekitar jika diamati
bisa dibagi kedalam:
- Benda-benda (termasuk manusia): setiap benda dan termasuk manusia memiliki keterbatasan. Manusia tidak bisa bernafas dalam air (tanpa alat bantu), tidak bisa terbang, merasa lelah dan lain-lain.
- Kehidupan (nyawa): Nyawa terbatas pada setiap individu, tidak ada dua individu satu nyawa. Nyawa berawal pada kelahiran dan berakhir pada kematian.
- Alam semesta: kumpulan benda-benda yang terbatas kemampuannya, maka akan terbatas pula.
Pengamatan terhadap ketiganya, selain adanya
keterbatasan juga menunjukkan keteraturan di alam semesta ini. Bumi dan
planet-planet beserta bulan tetap berjalan pada orbitnya.
Siapa di balik
keterbatasan dan keteraturan ?
Sebelum menjawabnya,
mari kita berpikir tentang baju yang kita pakai. Pabrik/penjahit/produsen yang
membuat baju kita akan memberikan aturan: ‘jangan direndam’, ‘jangan disetrika’
atau bahkan ‘jangan dicuci’. Tapi, pernahkah kita memikirkan pabrik baju ini
seperti apa, tingkat berapa gedungnya dan banyak pertanyaan lainnya ? Yang kita
yakin adalah pencipta baju ini ada.
Begitu juga dengan
pertanyaan: siapa di balik keterbatasan dan keteraturan ini ? Ada Sang Pencipta yang Maha Pengatur (Al
Khaliq wal Mudabbir). Tidak perlu lagi kita bertanya: Dia lelaki atau
perempuan, Dia melihat makhlukNya seperti apa dan pertanyaan lainnya yang pada
dasarnya ingin mengetahui Dzat Al Khaliq.
Inilah kesimpulan
pertama dari pengamatan yang kita lakukan. Sang Pencipta Yang Maha Mengatur
wajib ada tanpa perlu diketahui dzatNya.
Hakikat Sang Pencipta
Ada tiga kemungkinan
tentang Sang Pencipta:
1.
Dia
menciptakan dirinya sendiri. Ini
tidak mungkin, karena Dia adalah Al Khaliq (Sang Pencipta) sekaligus Makhluk
(yang diciptakan). Jadi kemungkinan pertama ditolak.
2.
Dia diciptakan
oleh yang lain. Ini berarti Al Khaliq
bukanlah Al Khaliq, karena Dia adalah makhluk dari yang menciptakannya. Jadi
kemungkinan kedua ditolak.
3.
Dia wajibul
wujud (wajib ada) dan azali (tidak berawal dan tidak berakhir). Al Khaliq harus ada dan Dia tidak ada yang
mendahului dan tidak ada yang mengakhiri.
Al Khaliq wal
Mudabbir tersebut adalah Allah
Subhanahu wa ta’Ala.
Kebutuhan akan Rasul
Sudah disebutkan
bahwa Dia adalah Sang Pencipta Yang Maha Pengatur. Dia mengatur setiap aspek
kehidupan manusia; makan, minum, buang hajat, mencari pasangan hidup,
berhubungan dengan manusia lain dalam poleksosbudhankam dan juga dalam
berhubungan dengan Sang Pencipta. Untuk mencontohkan aktifitas-aktifitas
tersebut, manusia memerlukan contoh, yang tidak lain diperoleh dari utusan (rasul)
Sang Pencipta.
Beberapa kemungkinan
Rasul sebagai berikut:
- Sang Pencipta sendiri, yang bisa menimbulkan ketaatan karena manusia tahu dzat Sang Pencipta, tetapi ketaatan tersebut akan rapuh, karena Sang Pencipta memiliki keterbatasan seperti manusia.
- Golongan manusia, sehingga manusia akan menyadari bahwa perintah dan larangan Sang Pencipta sangatlah manusiawi untuk dilaksanakan.
Jadi, manusia
membutuhkan rasul. Inilah kesimpulan kedua dari pengamatan kita.
Al Qur'an adalah
Kalamullah
Rasul adalah contoh
bagi manusia dalam melaksanakan aturan-aturan Sang Pencipta. Aturan-aturan
tersebut adalah risalah yang diturunkan kepada Rasul untuk diajarkan kepada
manusia. Al Qur'an adalah sebuah kitab berisikan risalah petunjuk jalan hidup
bagi manusia. Namun, benarkah Al Qur'an risalah yang diturunkan oleh Allah ?
Ada beberapa kemungkinan jawabannya:
1.
Al Qur'an
adalah buatan bangsa Arab.
Kemungkinan ini dijawab oleh Al Qur'an dengan beberapa tantangan bagi bangsa
Arab, seperti untuk membuat sepuluh surat bahkan satu ayat yang menyerupai
(keindahan dan kandungannya) - lihat Huud 13 dan Yunus 38. Adanya tantangan
didalam Al Qur'an tersebut membuktikan yang menurunkan Al Qur'an adalah Yang
Maha Mengetahui bahwa tantangannya tidak akan pernah terjawab. Jadi,
kemungkinan ini gagal.
2.
Al Qur'an
adalah buatan Muhammad, karena
Muhammad yang menyampaikannya. Kemungkinan ini terjawab oleh kemungkinan
pertama. Muhammad adalah seorang bangsa Arab, seluruh bangsanya tidak mampu
menjawab tantangan Al Qur'an, apalagi hanya satu orang saja. Bahkan ada
beberapa orang mengatakan bahwa Al Qur'an diajarkan oleh seorang non-Arab
bernama Jabr kepada Muhammad. Ini dijawab Al Qur'an dalam An Nahl 103.
3.
Al Qur'an
adalah kalamullah. Penolakan terhadap
kemungkinan-kemungkinan sebelumnya berarti penerimaan pada kemungkinan ketiga, bahwa
Al Qur'an berisikan firman-firman Allah SWT yang menjadi petunjuk bagi hidup
manusia.
Kesimpulan ketiga telah kita dapatkan, yaitu Al Qur'an adalah kalamullah.
Inilah Pokok Akidah
Islam
Terbuktinya Al
Qur'an sebagai kalamulah membuktikan juga bahwa Muhammad, si pembawa, adalah
seorang Rasulullah.
Sekarang kita
dapatkan pokok akidah Islam, yaitu adanya Allah, Al Qur'an sebagai
kalamullah dan Muhammad Rasulullah. Keimanan terhadap malaikat, kitab-kitab,
jin, syetan, iblis, hari akhir, takdir baik dan buruk, rizqi, ajal dan jodoh
adalah akidah cabang yang diturunkan dari akidah pokok tadi. Sebagai contoh,
malaikat wajib kita imani adanya, karena Al Qur'an menyebutkan adanya malaikat.
Karena Al Qur'an sudah kita yakini kebenarannya, maka pernyataan adanya malaikat
kita yakini kebenarannya.
Definisi Akidah Islam
Yang dimaksud akidah
Islam adalah:
- Pembenaran yang bersifat pasti (tashdiqul jazm). Artinya tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Keraguan walau setitikpun adalah kafir. Jadi pilihannya adalah iman dan kafir, tidak ada 50% iman dan 50% kafir.
- Kesesuaian dengan fakta. Artinya melalui pengamatan terhadap alam sekitar.
- Berdasarkan dalil. Artinya baik dengan dalil aqli/akal maupun naqli/wahyu (yang diperoleh dengan jalan aqliyah). Dalil aqli sudah dijelaskan di depan bagaimana diperoleh adanya sang Pencipta, kebutuhan akan rasul dan kebenaran Al Qur'an. Dalil naqli yang dibenarkan dengan jalan aqliyah, seperti pernyataan adanya malaikat hanya diperoleh lewat nash/teks (naqli) Al Qur'an, tetapi Al Qur'an-nya sendiri diyakini dengan jalan aqliyah.
Sekarang kita bisa
mendefinisikan akidah Islam sebagai keimanan kepada Allah, malaikatNya,
kitab-kitabNya, Nabi dan RasulNya, TakdirNya dan Hari Akhir dan lain-lain.
Jadi, Keimanan tidak
cukup dengan perasaan hati saja
Secara fitrah
manusia beriman dengan perasaan hati saja, karena perasaan hati biasanya
menambah-nambahi keimanan dengan sesuatu yang realistis. Jika perasaan hati
tidak disertai akal, maka akan timbul khurafat, dan penyembahan terhadap
berhala. Karena itulah Islam melarang bertaklid dalam urusan akidah.
Selain itu, Allah memerintahkan kita berpikir tentang makhluk-makhlukNya, yang
merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Perhatikan Al Jaatsiyat 3-4, Ali Imran
190, Ar Rum 22, Al Baqoroh 164 dan ayat-ayat lainnya, yang menunjukkan bahwa
Allah memerintahkan kita untuk memikirkan ciptaanNya.
Hubungan Akidah Islam
dan Syari’at Islam
Setiap seruan, baik
perintah atau larangan (Syari’at Islam), dari Asy Syari’ (Pembuat Hukum, Allah)
bagi seorang yang beriman (berakidah Islam) akan ditaati tanpa berat-hati.
Penolakan perintah sholat tidak ada bedanya dengan penolakan pengharaman
riba, perintah memotong tangan pencuri, perintah merajam pezina,
pengharaman khamr. Sebuah kemaksiatan besar jika kita tidak menerapkan
seruan-seruan Asy Syari’ tersebut, karena penolakan tersebut berarti telah
mengingkari kebenaran Al Qur'an sebagai kalamullah.
Ini berarti keimanan
dalam Islam adalah keimanan terhadap akidah Islam dan keimanan terhadap
syari’at Islam. Dan ini berarti pula Islam terdiri atas akidah dan syari’at.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar