Jl. Raya Sukawening No. 77 Pasanggrahan, Sukawening Garut Telp. (0262) 2449345 email: smpypi_sukawening@yahoo.com

Rabu, 09 April 2014

Peranan Akal dalam Masalah Keimanan



Akal manusia mampu membuktikan keberadaan suatu hal berada diluar jangkauannya, jika ada sesuatu yang bisa yang bisa dijadikan petunjuk atas keberadaan hal tersebut, seperti perkataan seorang baduy (orang awam) tatkala ditanyakan kepadanya “Dengan apa kamu mengenal Rabbmu ?” jawabnya :
“Tahi onta itu menunjukan adanya onta dan bekas kaki menunjukan pernah ada orang yang berjalan.”
Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an adalah bukti eksitensi Alloh (tentang adanya pencipta) dengan cara mengajak manusia memperhatikan makhluk–makhluk-Nya. Sebab kalau akal diajakuntuk mencari Dzat-Nya, maka tentu saja akal tidak mampu menjangkaunya, seperti firman-Nya yang artinya :
“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang–orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang meyakini.” (Al-Jaatsiyat 3-4 ).
Karena keterbatasan akal dalam berfikir islam melarang manusia untuk berffikir langsung tentang Dzat Alloh, karena Dzat Allah sudah berada diluar kemampuan akal untuk menjangkaunya. Selain itu juga karena manusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga–duga tanpa memiliki acuan kepastian) menyerupakan Allah SWT dengan suatu makhluk. Dalam hal ini Rosulullah bersabda :
“Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah teapi jangan kamu fikirkan tentang Dzat Allah. Sebab kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya yang sebenarnya.” ( HR.Abu Nu’im dalam “Al-Hidayah” ; sifatnya marfu’, sanadnya dhoif tetapi isinya shoheh ).
Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang Dzat Allah yang sebenarnya ; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam diatas Arsy-Nya, dan seterusnya. Sebab Dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisa. Ia tidak dapat dikiaskan dengan materi apapun, semisal manusia, makhluk aneh berkepala dua, bertangan sepuluh, dan sebagainya.
Kita hanya percaya dengan sifat–sifat Allah yang dikabarkan-Nya melalui Al-wahyu. Apabila kita menghadapi suatu ayat/hadits yang menceritakan tentang menyerupakan Allah dengan yang makhluk,maka kita tidak boleh mencoba-coba membahas ayat-ayat/hadits tersebut dan menta’wilkannyasesuai dengan kemampuan akal kita. Ia lebih baik kita serahkan kepada Allah, karena ia memang berada diluar kemampuan akal. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf.Imam Ibnul Qoyyim berkata :
“Para sahabat bebeda pendapat tentang beberapa masalah . padahal mereka itu adalah umat yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah terlibat bertentangan faham satu sama lainnya dalam menghadapi asma Allah, perbuatan-perbuatan Allah, dan sifat-sifat-Nya. Mereka menetapkan apa yang diutarakan Al-Qur’an dengan suara bulat. Mereka tidak ment’wilkan, juga tidak memalingkan pengertiannya.”
Ketika Imam Malik ditanya tentang makna “Persemayaman-Nya”(Iswaa’), beliau lama tertunduk dan bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata :
“Persemayaman itu bukan suatu yang dapat diketahui. Juga kaifiyah (cara) nya bukanlah hal yang dapat difahamkan. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakan hal tersebut adalah bid’ah atau salah”. 
Jalan ini juga ditempuh As-Syafi’i, Muhammad Abdul hasan As-Syaibani,Ahmad bin Hambal, dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar